Langsung ke konten utama

Tugas DKV 4 - Hasil Resume live Instagram

Al Shadri R
17107030033

Dalam dunia periklanan, dunia kreatif tidak melulu soal ide-ide yang kreatif, fresh dan unik. Kreatif memang perlu, tapi bukan berarti segalanya harus "terkreatifkan". Justru penekanan selling lah yang lebih besar dari kreatif itu sendiri. Maka dari itu idealisme dalam ide kreatif jelas tidak masuk akal. Inti dari bisnis adalah segala yang dijual. Anggie Hutagalung mengungkapkan bahwa dalam perusahaan besar, dunia bisnis tidak hanya menekankan kepada hal kreatif, justru faktor bisnis lebih besar. Oleh karena itu kita bisa menciptakan "hal kreatif yang dijual".

Lalu bagaimana proses kreatif ? Anggie menjelaskan ada beberapa proses kreatif tersebut, namun yang terpenting adalah kemauan untuk membuka wawasan, istilah nya adalah "serba tahu segala hal". Cukup tahu saja, tidak perlu mendalami. Misalnya haruss mengetahui topik hangat yang sedang trend, seperti virus corona, lockdown, atau isu ekonomi. Hal ini cukup mudah karena hanya perlu tahu saja, tidak perlu mendalami lebih lanjut.

Ada dua cara untuk menentukan ide kreatif iklan pada perusahaan bisnis besar, yaitu pengumpulan data dan proses kreatif. Dalam pengumpulan data , kita harus mengenali klien kita, bagaimana sifatnya, letaknya dimana, kepribadiannya bagaimana, apa bisnis utamanya, apa targetnya, dan lainnya, sehingga menghasilkan brand message  langkah itu dibutuhkan untuk lebih dekat dengan klien agar lebih mudah branding nya. Setelahnya baru dilaksanakan proses kreatif, yaitu brand communication. Brand juga harus dinamis. Kebanyakan brand sekarang cenderung statis, dengan tidak bisa menjangkau semua orang secara fleksibel. Atau malah brand yang "rakus" menargetkan semua orang menjadi jangakauan penjualan. Harusnya brand dinamis tak hanya menjangkau semua orang, namun bisa menyesuaikan banyak orang. Seperti menjangkau kalangan orang tua, anak muda, pekerja kasar, atau pejabat sekalipun. Anggie menjelaskan pula dalam kasus Air Asia juga terjadi seperti itu.

Air Asia yang merupakan tempat Anggie bekerja sebagai brand director/brand manajer pada masa lalu mengungkapkan bahwa mereka sebelum peristiwa kecelakaan pesawat strateginya hanya mementingkan selling saja seperti slogannya, everyone can fly. disaat peristiwa kecelakaan pesawat Air Asia, semua orang cukup terkejut mengingat sebelumnya tidak pernah terjadi insiden. Akibatnya kegiatan branding diatas dihentikan dan diganti dengan recovery campaign untuk membalikkan nama Air Asia yang menjadi sorotan kala itu dengan memanfaatkan media sosial. Melalui hastag #togetherwestand Air Asia membuat sebuah program membalikkan logo Air Asia yang abu-abu sebagai tanda berkabung, menjadi merah kembali. Logo awal dirubah menjadi pixel/dot dan setiap hastag yang masuk akan ikut menyumbang satu dot warna. Sehingga hasilnya logo air asia kembali seperti semula. Program semacam ini sejatinya bagus karena bisa lebih dekat dengan konsumen. Nyatanya kampenye ini terlaksana dalam dua hari saja, di luar perkiraan sekitar satu sampai dua minggu.

Akhir-akhir ini juga banyak menggunakan teknik dengan dekat kepada konsumen. Seperti membuat cerita agar seolah-olah kita membuat suasana sama dengan konsumen, membuat berbagai kampanye unik, atau malah menyusupkan orang-orang ke suatu komunitas agar bisa promosi secara halus. Ini karena orang percaya dengan apa yang orang katakan, bukan percaya kepada apa yang brand katakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas DKV 2 - Pemanfaatan Gelas sebagai Media dalam Menggambar

Assalamualaikum Yth Pak Rama, Berikut saya lampirkan foto gambar gelas saya Saya disini menggambar "panorama Merapi dan Merbabu" Berikut gambarnya Salam, Al Shadri R 17107030033

Tugas DKV 3 - Mengkampanyekan Pencegahan Covid19 melalui Gambar Papercup

Yth Pak Rama, Berikut saya lampirkan foto tugas tentang menggambar di papercup : Gambar diatas memiliki makna bahwa dalam keadaan seperti saat ini, rumah bisa menjadi "perisai" bagi seseorang untuk melawan virus corona. Dengan menetap dirumah maka interaksi dengan orang lain akan berkurang, sehingga potensi tertular virus bisa ditekan. Indonesia saat ini masih banyak yang "ngeyel" untuk #dirumahaja dengan alasan yang bermacam-macam. Padahal kita hanya menahan diri sampai pandemi ini selesai. Lebih baik menahan diri dirumah beberapa bulan daripada tertahan di rumah karena sakit😊 INGIN SEHAT ? #DIRUMAHAJA YA Al Shadri R 17107030033
Sleman (27/5) - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2017 telah menerbitkan sebuah karya berupa buku dengan judul "Gen Z Millenial Hybridasy".  Buku ini merupakan hasil dari pembelajaran mata kuliah Kajian Sosial Iklan yang diampu oleh dosen yaitu Bapak Rama Kertamukti.  Buku ini berisi tentang apa saja perilaku generasi Z dan millenial, seperti asmara, kecantikan, zaman online, dan lain-lain. Topik tersebut dibahas dengan metode mengaitkan teori-teori yang telah ada. Harapannya, semoga buku ini dapat bermanfaat, baik itu dari moril dan materiil. Demikian ujar Bapak Rama Kertamukti, Dosen mata kuliah Kajian Sosial Iklan.